Tampilkan postingan dengan label Berita Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Peternakan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

Petani Malang Ogah Pakai Pupuk Organik Bersubsidi

Petani Malang Ogah Pakai Pupuk Organik Bersubsidi  
ANTARA/Ampelsa
TEMPO.CO, Malang - Kebanyakan petani di Kabupaten Malang malas menggunakan pupuk organik bersubsidi. Akibatnya, pupuk organik bersubsidi yang terserap masih sangat sedikit.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pasar Pemerintah Kabupaten Malang Helijanti Koentari mengatakan sejak awal hingga pertengahan 2014 serapan pupuk organik bersubsidi masih yang paling rendah dibandingkan dengan pupuk kimia sintetis bersubsidi. "Karena masyarakat sekarang sudah bisa mandiri memproduksi pupuk organik," kata Helijanti, Senin, 4 Agustus 2014.

Dia menyebut pupuk organik yang terserap baru 8.390 ton atau hanya 28,61 persen dari total kuota sebanyak 29.319 ton. Serapan pupuk organik ini lebih sedikit dari serapan pupuk kimia sintetis (anorganik) bersubsidi, seperti pupuk urea, zwavelzure ammoniak (ZA) alias amonium sulfat, NPK Phonska, dan SP-36.

Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung tiga unsur hara atau nutrisi utama sekaligus, yakni nitrogen, fosfat (phosphat), dan kalium. Pupuk NPK biasa disebut pupuk lengkap. Pupuk SP atau Superphosphat-36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang.

Sedangkan pupuk organik di dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah didefinisikan sebagai pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

Helijanti memprediksi rendahnya serapan pupuk organik bersubsidi berlanjut hingga akhir tahun anggaran sehingga dia pesimistis seluruh pupuk organik yang diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terserap habis.

Namun, Helijanti menekankan bahwa gabungan serapan pupuk organik dan pupuk anorganik bersubsidi masih kurang dari 50 persen. Hingga pertengahan Juli lalu, total pupuk bersubsidi yang terserap masih 69.922 ton atau setara 46,90 persen dari total kuota sebanyak 149.080 ton.

Dari lima jenis pupuk bersubsidi itu, hanya pupuk urea dan SP-36 yang serapannya melebihi 50 persen. Pupuk urea yang terserap sebanyak 27.002 ton atau 68,53 persen dari total kuota 39.403 ton. Sedangkan pupuk SP-36 yang terserap sebanyak 3.185 ton atau 56,58 persen dari total kuota 5.629 ton.

ABDI PURMONO

 

 

Poc Nasa Pupuk Organik Cair

Pemberian Nutrisi Tekan Risiko Penyakit pada Ternak

MedanBisnis - Medan. Direktur Teknik PT Komposindo Granular Arendi, Sigit Agus Gunawan, menegaskan, syarat penting yang harus dipenuhi dalam beternak adalah kesehatan. Pemberian nutrisi bisa menghindarkan risiko serangan penyakit ataupun hambatan pertumbuhan lainnya.
"Kesehatan hewan ternak merupaka faktor utama untuk menunjang keberhasilan dalam usaha peternakan," katanya kepada MedanBisnis, Senin (18/2) di ruang Dh Penny Pascasarjana Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, di Medan.

Dikatakannya, sejak 2005 lalu, pihaknya sudah berhasil meencipatakan formula yang berfungsi sebagai nutrisi bagi hewan ternak, yakni Probio 12. Nutrisi berbentuk cair tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan pencernaan ternak dalam menyerap fosfor yang berasal dari bahan pakan.

Sehingga kadar unsur tersebut akan terkandung cukup di dalam darah. "Dengan cukupnya kadar fosfor dan kalsium dalam darah ternak tersebut maka nafsu makan akan meningkat. Pada sapi perah dapat meningkatkan produksi susu," katanya.

Selain itu, penggunaan nutrisi tersebut, mampu menghasilkan enzim selulose dan hemiselulose yang dapat mengoksidasi isi sel dan dinding sel tanaman pakan. Sehingga pencernaan ternak mampu dengan mudah dan cepat mencerna serat kasar bahan pakan yang biasanya tidak mudah dicerna sehingga keluar bersama kotoran. Dengan begitu, volume kotoran menjadi berkurang.

Dijelaskan Sigit, laju degradasi dan fermentasi bahan pakan sehingga efisiensi volume pakan juga meningkat. Tidak itu saja, nutrisi tersebut juga mencegah kegagalan fungsi sel telur dan meningkatkan kesuburan serta membuat teratur siklus birahinya.

"Pada saluran pencernaan unggas, dapat mengurangi produksi ammonia yang bisa menghambat laju pertumbuhan, karena fungsinya membunuh kuman-kuman patogen pada saluran pencernaan," katanya.

Dari pemberian nutrisi tersebut, dampak yang bisa dilihat dengan mudah adalah pada bulu sapi atau kambing mengkilap layaknya hewan ternak yang sehat. "Untuk sapi/kambing muda, cukup dengan ukuran tutup botol dicampurkan dengan 10 liter air diberikan pada minuman dan makannya setiap hari. Sementara untuk kambing, sapi dan unggas dewasa, 1 tutup botol dicampurkan dengan 1 liter air," ujar Sigit. (dewantoro)

Poc Nasa Kemasan Besar

Melirik Bisnis Ayam Organik yang Kian Diminati

Penggunaan hormon penggemuk secara masal untuk hewan ternak ayam, kambing, sapi dan lain-lain, sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Padahal penggunaan hormon penggemuk ini bisa memicu. kanker rahim pada wanita dan kanker prostat pada laki laki. NERACA
Belakangan, peredaran makanan tidak sehat di masyarakat memang semakin mengkawatirkan, baik tradisional maupun berlabel internasional. Selain makanan-makanan di resto cepat saji yang belakangan diketahui tidak terjamin kesehatannya, juga makanan dan jajanan di masyarakat yang juga mengalami hal serupa.

Selain akibat penggunaan obat dan bahan-bahan kimia berbahaya, seperti hormon, pengawet dan lain-lain, makanan-makanan yang beredar di pasaran sungguh sangat mengkhawatirkan yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan makanan hingga penyakit aneh-aneh seperti stroke, jantung, hipertensi, dan lain-lain.
Di level nasional dan global, laporan World Health Organization (WHO) tahun 2007 menyatakan, secara global terjadi 1,5 miliar gangguan kesehatan karena makanan, 3 juta diantaranya meninggal tiap tahun dengan jumlah yang cenderung meningkat.

Sedangkan, data pada 2009 menyebutkan, Indonesia masih menjadi 10 negara tertinggi dengan pasien gangguan makanan yang akhirnya meninggal dunia. Data dari BPOM juga melengkapi pentingnya permasalahan ini karena ternyata 51% dari outlet hotel, restoran, dan kafetaria tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Penggunaan hormon penggemuk secara masal untuk hewan ternak ayam, kambing, sapi dan lain-lain, baik itu lewat makanan atau implantasi ke bawah kulit, sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Hormon penggemuk ini merupakan derivatif dari hormon estrogen dan androgen sintetis yang awalnya dikembangkan untuk pil KB atau terapi medis/hormon.

Hanya Uni Eropa yang tegas melarang pemakaian hormon penggemuk bagi hewan ternak. AS-Australia-Japan pun masih mengizinkan penggunaan hormon ini walaupun mungkin saja ini terbatas pada konsumsi ekspor, sedangkan untuk konsumsi dalam negeri, penjualan daging dengan label organik lebih cenderung dipilih oleh konsumen walaupun dgn harga lebih mahal karena kesadaran konsumen thd bahaya efek konsumsi daging berhormon (Back to Nature).
Bahaya dari daging yang diproduksi dengan hormon ini dapat memicu miom dan kanker rahim pada wanita dan kanker prostat pada laki laki.

Didasari atas kondisi dan keprihatinan tersebut, Ema Indriyati dari Rumah Organic Chicko Bekasi menuturkan, pihaknya mencoba mencari alternatif bagaimana caranya agar makanan sehat hadir di masyarakat. Salah satu caranya dengan memilih makanan organik.
“Makanan organik adalah semua jenis bahan pangan yang berasal dari organisme hidup (hewan dan tanaman) yang tidak mempunyai kandungan kimia tambahan (pestisida, insektisida, dan hormon),” kata Ema.
Pihaknya memiliki komitmen untuk menghadirkan daging yang halal dan sehat terbebas dari penggunaan Hormon, Vaksin, antibiotik buatan dan obat kimia berbahaya dalam proses produksinya dan digantikan oleh lebih dari 50 ekstak herbal, buah dan tanaman sebagai asupan nutrisi yang berfungsi menjaga kesehatan ternak secara alami dan mampu meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan.

 

Hormonik Hormon Organik Nasa



Mengenal Jenis-Jenis Pakan Ternak

225 - BSR - Pakan ternak
Beternak selain bisa dijadikan sebagai hobby ternyata juga bisa mendatangkan uang, bagi anda yang memiliki hobby mengoleksi hewan-hewan tertentu bisa dijadikan sebagai usaha untuk menghasilkan uang, peluang usaha ini bisa anda mulai dari yang kecil terlebih dahulu dan di mulai dari diri sendiri, ketika sudah berkembang nantinya anda bisa mempekerjakan beberapa orang untuk membantu. hal yang paling mendasar untuk usaha ini tentu saja pemberian pakan ternak.
Ada baiknya jika anda mengenal berbagai jenis pakan untuk ternak terlebih dahulu sebelum memulai usaha tersebut, berikut ini diantaranya:
  • Hijauan, pakan jenis ini diberikan kepada hewan ternakn jenis ruminansia, hijauan bisa anda dapatkan dari berbagai jenis tanaman yang bisa dengan mudah anda dapatkan apalagi bagi yang tinggal di desa.
  • Konsentrat, konsentarat dipakai sebagai pakan untuk hewan unggas, jenis pakan yangsatu ini terbuat dari biji-bijian dan kaya akan protein juga energi yang tinggi.
  • Suplemen, suplemen biasanya dijadikan sebagai pakan tambahan untuk ruminansia, pakan ini, mengandung berbagai vitamin dan juga mineral, peken suplemen biasanya juga diberikan dengan maksud meningkatkan nafsu makan hewan.
Itulah beberapa jenis pakan ternak yang perlu anda ketahui sebelum memulai usaha tersebut, saat sudah terjun ke dunia ini selain pemberian pakan, anda juga harus memberikan perawatan agar hewan tidak banyak yang mati.

Viterna Plus Vitamin Ternak Organik

Penambahan Pakan Daun Turi Tingkatkan Bobot Lahir Anak Sapi Bali

Sapi Bali merupakan jenis sapi potong utama di wilayah Indonesia Timur. Sapi jenis ini banyak dibudidayakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahun 2011 di daerah tersebut populasi sapi Bali mencapai 784.012 ekor. Sementara permintaan sapi Bali dari luar derah setiap tahunnya sangat besar hingga 23.000 ekor.
“Hanya saja hingga kini NTB belum bisa memanfaatkan peluang tersebut karena keterbatasan lahan dan keterbatasan pemeliharaan ternak yang rata-rata hanya bisa memelihar 2 ekor sapi,” jelas Ir. Imran, M.Si., saat melaksanakan ujian terbuka Program Doktor, Jum’at (26/4) di Fakultas Peternakan UGM.
Dalam kesempatan itu staf pengajar pada Fakultas Peternakan Universitas Mataram ini mempertahankan disertasi berjudul “ Dampak Peningkatan Kualitas Pakan Terhadap Produktivitas Sapi Bali di Lombok Tengah NTB”. Menurutnya untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak guna memenuhi permintaan yang besar tersebut harus didukung dengan usaha penigkatan ketersediaan dan kualitas pakan yang memadahi. Selain itu juga perlu diperhatikan sinkronisasi ketersediaan pakan dengan siklus reproduksi ternak. Dengan penyesuaian waktu tersebut diharapkan saat anak sapi (pedet) lahir di saat keberadaan pakan yang melimpah dan kandungan protein yang tinggi.
Melihat kondisi tersebut, Imran melakukan penelitian dengan mengembangkan strategi pemberian pakan pada indukan dan pedet menggunakan pakan lokal berkualitas tinggi yaitu daun turi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemberian suplemen daun turi pada indukan Sapi Bali di derah basah pada masa bunting enam sampai tujuh bulan dapat meningkatkan bobot lahir pedet dan pertambahan bobot badan harian pra sapih dari 14,82 ± 2,63 kg menjadi 18,21 ± 1,27 kg. Sementara pertambahan bobot badan harian pada pedet pra sapih meningkat dari 0,50 ± 0,03 kg/hari menjadi 0,54 ±0,04 kg/hari.
Ditambahkan Imran pemberian tambahan pakan daun turi tersebut juga terbukti dapat meningkatkan konsumsi,kecernakan nutrian, neraca nitrogen, serta ekskresi suplai protein mikroba pada indukan sapi Bali. Hal serupa juga akan terjadi dengan pemberian tambahan pakan daun turi pada indukan Sapi Bali selama menyusui. “Pemberian daun turi pada indukan sapi selama menyusui dapat meningkatkan produksi susu. Sementara pemberian pada anakan sapi Bali masa lepas sapih bisa menaikkan konsumsi nutrient dan pertambahan bobot harian pedet,” paparnya.(Humas UGM/Ika)

 

 

Hormonik Kemasan Besar

Fakultas Peternakan UGM Kembangkan Riset Probiotik


Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak (NMT) Fakultas Peternakan UGM saat ini terus berusaha untuk mengeksplorasi hal-hal yang terkait dengan misteri ilmu pengetahuan yang nantinya dapat langsung bermanfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu aspek yang saat ini sedang dieksplorasi adalah tentang penggunaan probiotik dalam industri ayam potong. Menurut Ketua Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak (NMT) Fakultas Peternakan UGM  yang juga Project Manajer Kerjasama Riset NMT-EVONIK, Bambang Suwignyo, Ph.D selama ini industri ayam potong tidak lepas dari penggunaan obat kimia termasuk salah satunya adalah antibiotik. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kesadaran untuk menuju sumber pangan yang aman dan nyaman maka muncul pemikiran untuk penggunaan probiotik dalam industri ayam potong.

“Ini tidak hanya dilandasi oleh kepentingan untuk menuju hidup sehat yang lebih baik namun juga efisiensi usaha (ekonomi),”kata Bambang, Rabu (21/8) di Fakultas Peternakan UGM.

Ia mengatakan penggunaan obat kimia selain berpotensi pada efek samping pada kesehatan manusia juga berbiaya tinggi. Probiotik adalah bahan yang berasal dari organik atau biologi yang jelas lebih ramah lingkungan dan berpotensi untuk menurunkan biaya produksi. Saat ini Bagian NMT Fakultas Peternakan UGM telah  melakukan kerjasama dengan PT Evonik Singapura dalam hal ekplorasi atau penelitian terkait dengan pemanfaatan probiotik pada industri ayam potong.

“Kerjasama ini dilakukan dalam koridor saling memberikan manfaat dan upaya untuk kehidupan manusia yang lebih baik dalam pemenuhan pangan,”imbuhnya.

Dengan supervisi Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama Fakultas Peternakan UGM tim kerjasama ini dikoordinasikan (pimpro) Bambang Suwignyo, Ph.D (Ketua Bagian NMT ex officio) dengan tim Ahli Prof.Dr.Ir.Zuprizal, DEA; Prof.Dr.Ir. Wihandoyo, MS; Dr.Ir. Supadmo, MS; Nanung Danar Dono, S.Pt, M.Sc, Ph.D pada tahap pertama. Sedangkan pada tahap kedua akan menambah satu ahli Prof.Dr.Ir. Sri Harimurti, MS.

Penelitian ini melibatkan beberapa mahasiswa S1. Diharapkan dengan melibatkan para mahasiswa ini tidak semata-mata sebagai sarana kelulusan bagi mahasiswa, namun sekaligus sebagai sarana pembelajaran dalam arti luas. Pembelajaran yang membangun pemahaman mahasiswa, pembelajaran dengan mengembangkan prior-knowledge, dan pembelajaran bermakna yang dicapai melalui pengalaman nyata. Konsep mendekatkan mahasiswa pada obyek pengamatan dan mendorong mahasiswa untuk belajar melalui learning by doing. Melalui kerjasama ini diharapkan menghasilkan riset yang langsung menyentuh permasalahan kemanusiaan sehingga hasil riset adalah menjadi jawaban atas masalah tersebut (Humas UGM/Satria)

Tangguh Probiotik Peternakan Perikanan


Sapi Kereman yang Menguntungkan


Sapi Kereman yang Menguntungkan
Agus, masih asyik melihat sapi jenis limousin yang diternaknya. Ia meneliti setiap jengkal tubuh sapi yang menjadi andalannya itu. Mulai kulit, kepala, telinga, sampai kaki. Semuanya ideal dengan berat badan seperti yang diharapkannya.

Ia membeli sapi jenis limousin saat kontes akhir tahun lalu. Sapi itu masih pedet (anak sapi) dan umurnya masih di kisaran satu tahun. Awalnya, ia membeli pedet itu dengan harga Rp15,5 juta. Tiga pekan berselang ada yang menawar dengan harga Rp20 juta.

"Saya tidak berikan, karena sapi itu sangat bagus. Mirip sekali dengan sapi Australia, postur tubuhnya, kakinya, kepalanya. Saya persiapkan ikut kontes," ujarnya.

Kereman atau penggemukan, itulah yang dipilih oleh Agus Dwi, salah seorang peternak sapi asal Desa Tanjung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Ia menilai, program penggemukan sapi lebih mudah daripada pembibitan, dan ia pun konsentrasi di bidang kereman ini.

Ya, budidaya sapi kereman atau penggemukan marak dilakukan oleh sejumlah peternak, termasuk di Kabupaten Kediri. Tingkat keuntungan yang berlipat ganda membuat peternak sangat berminat. Terlebih lagi, mendekati Hari Raya Idul Adha 2014, karena permintaan akan ternak, terutama sapi, relatif lebih banyak jika dibandingkan dengan hari biasanya.

Bagi Agus yang mantan Kepala Desa Tanjung ini, penggemukan sapi mempunyai keuntungan dan kesenangan tersendiri, terlebih lagi jika ia mendapat sapi yang cukup bagus. Di kandangnya, terdapat berbagai macam jenis sapi, seperti brahman, simental, serta sapi limousin.

Ia membeli sapi-sapi yang sehat, namun kondisinya tidak terlalu gemuk. Dengan itu, ia bisa menawar dengan harga yang murah dan ia gemukkan di kandang yang ia miliki sejauh 1 kilometer dari rumahnya.

Pria yang berumur 41 tahun itu mengaku mempunyai trik khusus menggemukkan sapi. Sapi-sapi yang telah dibeli, harus dilihat kondisi kesehatannya, apakah dia terkena penyakit, misalnya penyakit cacing atau penyakit lainnya yang membuat sapi itu tidak terlalu nafsu makan, sehingga badannya kurus.

"Awal datang, selalu diberi obat cacing. Itu upaya agar nafsu makannya bagus," katanya.

Selain diberi obat cacing, sapi itu juga diberi vitamin dengan tujuan agar tubuhnya semakin sehat. Jika sehat, nafsu makan sapi itu juga naik drastis dan lekas gemuk.

Untuk keseharian makan, ia memberi pakan penuh dengan nutrisi. Bahkan, pakan itu diraciknya. Dibantu dengan anak buahnya yang khusus bertugas mengurusi ternak sapi miliknya, sejumlah pakan diracik dan difermentasi.

Olahan pakan yang difermentasi itu terdiri dari campuran bekatul, tepung jagung, gaplek (singkong yang dikeringkan), mineral, pollard (dari bahan gandum), kangkung kering, sampai kulit ari kedelai.

Seluruh bahan dengan porsi yang dirahasiakan itu difermentasi menggunakan tetes tebu dengan ukuran secukupnya. Tetes tebu juga baik untuk kesehatan hewan, dan cukup dianjurkan oleh dinas peternakan, asalkan sesuai dengan kebutuhan.

"Seluruh bahan dicampur, difermentasi selama 10 hari dan ada bahan tambahan lain yang bisa membuatnya lebih cepat gemuk," ujarnya, sembari merahasiakan bahan yang dimaksud.

Namun, katanya, bahan-bahan itu juga tidak harus difermentasi. Jika tidak ada stok pakan yang difermentasi, maka makanan yang sudah dicampur itu juga bisa langsung diberikan pada sapi. Kandungan gizinya tidak berubah.

Walaupun memberi makanan alami dan bergizi dari berbagai campuran bahan itu, Agus juga mengatakan tetap memberi pakan berwarna hijau seperti layaknya sapi.

Selain memerhatikan makanan, ia juga sangat memerhatikan kesehatan kandang. Setiap hari, kandang dibersihkan dari berbagai macam kotoran ternak. Sapi juga dimandikan setiap hari, agar bersih dan kesehatannya terjaga.

Sarana sanitasi di kandang juga harus diperhatikan. Kandang dibuat terbuka agar udara lebih bebas dan tidak pengap. Kandang juga diberi atap, agar ternak terhindar dari panas matahari dan hujan.

Selain itu, saluran air dibuat dekat dengan kandang, agar lebih mudah saat memandikan ternak dan dibuat irigasi kecil, agar air sisa untuk membersihkan sapi dan kandang bisa mengalir dengan baik.

Untuk tempat pakan, juga dibuat tidak terlalu tinggi, sehingga sapi-sapi pun bisa makan dengan leluasa. Pun demikian, ketika sapi itu masih pedet, bisa menjangkau pakan yang disiapkan di dalam kandang.

Agus mengungkapkan, biaya perawatan untuk setiap ekor sapi yang ia ternak bervariatif. Untuk sapi jenis lokal, seperti brahman atapun simental, biaya perawatan tidak terlalu besar, di kisaran Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per hari.

Namun, untuk jenis limousin, biaya perawatan lebih besar, bahkan sampai Rp50 ribu per ekor jika sudah dewasa. Hal itu karena kebutuhan pakan yang lebih besar, mengingat berat badannya juga relatif lebih besar jika dibandingkan dengan sapi lokal.


Langganan pejabat
Berburu sapi, bagi Agus, tak harus sampai ke luar Jawa Timur. Ia menilai stok anakan sapi yang ada di Jatim masih melimpah dan banyak yang sangat bagus, sehingga ia pun tidak terlalu sulit mendapatkannya. Hanya saja, ia harus benar teliti dan tekun merawatnya mencari bibit yang terbaik.

Selain mencari sapi dari para peternak, ia juga mencari sapi saat kontes sapi. Kegiatan itu biasanya dilakukan oleh dinas peternakan di daerah setempat. Ia sering mengikuti kontes sapi dan beberapa kali ikut lomba. Hasilnya, sejumlah penghargaan kerap ia dapat.

Penghargaan itu seperti dapat juara dua kontes ternak se-Jatim pada 2013 di Blitar, serta juara kontes lomba ternak di Kabupaten Kediri pada 2014. Hadiahnya yang diberikan panitia adalah piala penghargaan, sertifikat, serta uang pembinaan. Uang yang diberikan memang tidak seberapa, tapi Agus mengaku puas.

Ia menceritakan untuk sapi yang menang kontes di Jombang pada 2013, awalnya ia beli sapi dengan bobot kisaran 6 kuintal saja dan umurnya 7-8 bulan. Ia pelihara sapi itu dan dalam relatif waktu 2,5 tahun bobotnya sudah menjadi 12,5 kuintal dan ternyata menang dalam kontes.

Selain untuk penggemukan, Agus juga mempunyai target sapi yang ia pelihara bisa menang kontes yang diadakan Dinas Peternakan di daerah, ataupun lomba kontes tingkat Jatim, bahkan tingkat nasional. Untuk itu, ia sengaja memilih pedetan yang sangat bagus untuk lomba.

Memulai bisnis sapi kereman, sejak empat tahun lalu, tak membuat Agus putus asa. Ia nekat menjual sejumlah kendaraan yang ia miliki dan mengalokasikan dana untuk konsentrasi di bidang penggemukan ternak ini.

Secara usia, Agus menyadari memang masih dini. Namun, ia mengaku bukti dengan ketekunan yang ia lakukan, serta pemberian makanan yang berimbang, membuat ternak yang ia rawat sehat dan kualitasnya bagus.

Ia pun menyadari dari rentang waktu yang singkat itu, ia banyak belajar termasuk bagaimana mengetahui kondisi sapi yang bagus, serta perkembangan sapi. Tidak setiap sapi mempunyai kondisi yang sama, sehingga berkembang dengan baik dan cepat.

Misalnya, untuk sapi yang belum "poel" (belum cukup umur atau di bawah satu tahun) tidak menunjukkan angka perkembangan yang sangat cepat atau lambat. Namun, jika sudah "poel", ia akan bisa tumbuh dengan sangat bagus dan cepat gemuk.

"Jika masa di bawah satu tahun perkembangan lambat, kisaran 1-2 kilogram per hari," katanya.

Ia pun tidak lama merawat ternak. Ternak untuk kereman dipertahankan sampai satu tahun, agar dapat bobot ideal, namun untuk sapi lokal di kisaran tiga bulan. Bahkan, jika dalam rentang satu bulan sudah gemuk, ia bisa melepas dan mencari sapi lainnya.

Dalam rentang setahun, ia bisa menjual sapi hasil kereman dalam jumlah banyak. Permintaan datang dari berbagai pihak, dari orang biasa sampai pejabat, terlebih lagi menjelang Hari Raya Idul Adha, pesanan lebih banyak lagi.

Pada 2013, ia mampu menjual sampai 100 ekor, dan pada 2014, terlebih lagi, menjelang hari raya kurban itu, bisa sampai 150 ekor.

Berkat prestasinya yang berhasil dalam program kereman sapi, ternak yang ia pelihara juga menjadi langganan pejabat untuk dibeli. Pernah Ketua DPR RI Agung Laksono membeli sapi miliknya, bahkan Bupati Kediri juga selalu pesan ternak pada dirinya, terutama untuk keperluan Hari Raya Idul Adha.

Pekan ini, ia juga mengirimkan ternak pesanan perkumpulan dokter di salah satu rumah sakit di Surabaya. Ternak miliknya terjual dengan harga Rp100 juta dan ada yang Rp80 juta. Perkumpulan dokter itu memilih sapi jenis limousin untuk dikurbankan, karena mempunyai bobot yang lebih jika dibandingkan sapi jenis lokal.

"Bupati sudah pesan, nanti dikirimkan mendekati lebaran," ujarnya.

Di kandang miliknya ada puluhan ekor jenis sapi. Sebagian sudah dipesan oleh para pelanggan. Sapi-sapi itu sengaja masih dititipkan dan akan diambil mendekati Hari Raya Idul Adha.

Namun, ia sudah mempunyai hitungan tersendiri. Sapi yang dititipkan tetap dikenai biaya perawatan yang besarnya sama dengan biaya perawatan setiap harinya, berkisar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per ekor per hari.


Dukungan Pemerintah
Di Desa Tanjung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri tersebut, mayoritas warganya mempunyai ternak sapi. Geografis di daerah itu juga mendukung. Lahan kosong banyak disulap jadi lahan rumput gajah, sebagai pakan sapi.

Namun, urusan ternak sapi, yang konsentrasi di bidang kereman atau penggemukan hanya sejumlah petani saja. Lagi-lagi, modal yang menjadi salah satu alasan para peternak lebih memilih untuk pembibitan daripada penggemukan.

Imron (40), peternak kereman lainnya mengatakan, ia memang lebih menyukai untuk penggemukan sapi daripada pembibitan. Menurut dia, penggemukan lebih cepat dan lebih menguntungkan.

Berbagai jenis sapi ia miliki, baik brahman, limousin, simental, benggalan, dan sejumlah sapi lainnya. Namun, dalam memelihara, ia lebih banyak mamanfaatkan makanan alami, dibandingkan dengan menggunakan berbagai macam suplemen dan vitamin untuk menambah nafsu makan sapi.

Imron mengatakan pernah membeli sapi dengan bobot 4,5 kuintal, padahal idealnya 6 kuintal. Sapi itu terlihat kurus, dari berat badan idealnya. Tapi, dengan berbagai macam pakan yang nutrisinya juga terjamin, akhirnya sapi itu bisa gemuk dan mempunyai nilai daya jual yang tinggi.

"Jika makanan stabil selama empat bulan bisa dapat pendapatan Rp5 juta, tapi masih kotor. Bersihnya, setengahnya," katanya.

Makanan yang ia berikan juga alami, seperti ampas kedelai, bekatul, serta pakan berwarna hijau, yaitu rumput. Pakan itu diberikan pagi dan sore, sehingga sapi kenyang.

Walaupun tidak menggunakan obat, demi meningkatkan nafsu makan, Imron mengaku tetap menggunakan obat pada sapi. Tapi, obat yang diberikan untuk mencegah sapi sakit, misalnya perut kembung ataupun linu.

Untuk saat ini, ia mempunyai tiga ekor sapi betina. Sapi itu sengaja ia rawat untuk kesibukan sehari-hari. Sejumlah sapi lainnya sudah habis terjual, untuk keperluan perayaan Idul Adha.

Namun, ia mengakui jika pembeli dari kelompok partai lebih menguntungkan dibandingkan pembeli orang biasa. Harga yang diberikan lebih tinggi. Untuk jenis brahman misalnya, sapi di masyarakat umum bisa terjual dengan harga Rp15 juta per ekor, tapi jika yang membeli partai atapun pejabat bisa lebih mahal lagi, sampai Rp20 juta bahkan lebih per ekor.

Program penggemukan sapi atau sapi kereman mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Jawa Timur, dinilai sebagai pemasok ternak dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri Sri Suparmi menyebut pemerintah membuat program untuk sapi kereman ini. Program itu bisa dibuat untuk kelompok peternak. Kebanyakan sapi kereman itu pejantan.

Sri mengaku program itu memang sengaja dibuat. Awalnya, program itu dikucurkan guna mengurangi populasi ternak yang disembelih. Jika awalnya dua sapi, bisa hanya menyembelih satu ekor saja, jika rencana tiga ekor, bisa disembelih hanya dua ekor saja.

"Kereman (penggemukan) itu tujuannya meningkatkan berat badan (BB). Tujuan awalnya mengurangi angka pemotongan sapi, jadi populasi bertambah," kata Sri.

Sri mengatakan, kelompok peternak sapi kereman itu merata di Kabupaten Kediri. Ada sekitar 100 kelompok peternak sapi kereman. Setiap kelompok mempunyai sekitar 10 orang anggota.

Pihaknya mengatakan banyak agenda yang dibuat oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri terkait dengan program sapi kereman itu, seperti pelayanan kesehatan terpadu guna mempertahankan kesehatan ternak.

Hampir setiap desa mempunyai jadwal khusus untuk pemeriksaan ternak mereka. Pemeriksaan itu juga terbagi di sejumlah titik, sehingga memudahkan peternak memeriksakan kesehatan ternaknya. Pemeriksaan itu rutin tiap tiga bulan sekali.

"Satu desa dibagi di beberapa titik pemeriksaan," ujar Sri.

Selain masalah kesehatan, kata Sri, pihaknya sangat memerhatikan masalah asupan pakan bagi ternak. Dinas sering mengadakan pelatihan bagi peternak, membuat pakan. Mereka bisa meracik pakan sendiri, dengan memanfaatkan bahan-bahan alami, yang juga kaya akan nutrisi. Bahan alami itu seperti memanfaatkan ampas kedelai. Limbahnya bisa digunakan untuk pakan ternak.

"Mereka bisa menghemat biaya, jika dibandingkan membeli pakan konsentrat. Jika beli terus, secara ekonomis mereka rugi," ujarnya.

Pada 2014 ini, terdapat lima kelompok yang dapat program penggemuka sapi. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri mengaku anggaran yang ada terbatas, jadi tidak semua kelompok dapat program.

Setiap anggota mendapatkan anggaran Rp10 juta untuk satu ekor sapi. Untuk pembelian sapi pun, juga akan dikawal tim dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri. Mereka bertugas memantau kesehatan hewan ternak yang dibeli oleh anggota kelompok bersangkutan.

Pengembalian dalam program sapi kereman, lanjut Sri juga tidak terlalu berat. Setiap orang di kelompok itu diwajibkan menyetorkan laba hasil penjualan, dengan pembagian 70:30 persen. Petani mendapat bagian besar, 70 persen, sedangkan sisanya dikembalikan ke kas daerah lewat bank awal proses pengajuan.

"Atau bisa dengan potongan, 6 persen dipotong di awal pengajuan. Itu pengajuan ke bank daerah," kata Sri.

Pihaknya mendukung penuh upaya untuk penggemukan sapi. Hal ini juga ikut meningkatkan perekonomian para peternak. Terlebih lagi, kesehatan ternak, terutama sapi di Jatim juga diakui oleh pemerintah.

Berbeda dengan ternak di sejumlah daerah (provinsi) yang diindikasikan terkena penyakit menular, antraks, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, dan sejumlah daerah lain.

Di Kabupaten Kediri, stok sapi juga melimpah. Populasi sapi yang ada sampai 198.394 ekor. Untuk pejantan siap potong mencapai 9.920 ekor, dan diprediksi ternak yang akan disembelih saat Hari Raya Idul Adha 2014 ada 5.094 ekor.

Tingkat kebutuhan daging bagi masyarakat di Kabupaten Kediri juga terpenuhi dengan stok ternak yang ada. Produksi daging sapi mencapai 1.095.425 kilogram, sementara konsumsi masyarakat hanya 792.808 kilogram, sehingga surplus produksi daging mencapai 302.617 kilogram atau 1.407 ekor.

Menghadapi Hari Raya Idul Adha 2014, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri juga sudah membentuk tim pemantau. Ada empat tim yang dibentuk dan setiap tim bertugas 10 orang, termasuk dokter hewan ataupun mantri hewan.

Mereka dibagi memantau kesehatan hewan kurban baik sebelum disembelih ataupun setelah disembelih. Gunanya, memastikan kondisi daging yang disembelih saat Idul Adha itu layak konsumsi.

Dari pengalaman, terdapat sejumlah temuan, seperti adanya penyakit cacing hati. Daging dengan penyakit itu berbahaya jika dikonsumsi manusia, dan dianjurkan untuk dibuang.

Kini, Kabupaten Kediri pun dikenal sebagai daerah sapi kereman yang juga didukung pemerintah daerah setempat, sehingga masyarakat dan pejabat pun mengenal daerah itu, apalagi pada hari raya Idul Adha seperti saat ini. (*)
Editor: Edy M Yakub

 

 

Viterna Plus Organik Serbuk